Rabu, 08 Mei 2013

Teori-teori Belajar dan Pembelajaran



Teori adalah sejumlah proposisi yang terintegrasi, maksudnya kumpulan proposisi yang mengikuti aturan-aturan tertentu yang dapat menghubungkan secara logis proposisi yang satu dengan lainnya dan juga pada data yang diamati secara sintaktik yang digunakan untuk memprediksi dan menjelaskan peristiwa-peristiwa yang diamati. Namun, tidak semua teori tersusun secara sempurna, pasti memiliki persoalan dan perbedaan yang membedakannya dengan teori lainnya, dan juga memiliki perubahan dari masa ke masa.
Pada umumnya teori-teori pembelajaran memiliki dua arti penting yaitu menyediakan kosa kata dan kerangka konseptual yang kita gunakan untuk menginterpretasi contoh-contoh pembelajaran yang diamati, kemudian menuntun kemana kita harus mencari solusi atas persoalan-persoalan praktis. Ada beberapa macam teori pembelajaran yaitu teori behavioristik, kognitif, konstruktivisme, dan humanistik.
Teori behavioristik merupakan teori yang menekankan pada stimulus dan respons yang mana belajar adalah hasil dari latihan-latihan yang akhirnya menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. Dalam teori ini tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat, dan perasaan individu dalam belajar. Teori belajar behavioristik sangat menekankan pada hasil belajar, yaitu perubahan tingkah laku yang dapat dilihat. Hasil belajar diperoleh dan proses penguatan atas respons yang muncul terhadap stimulus yang bervariasi.
Pada teori kognitif, belajar pada asasnya adalah peristiwa mental yang bersifat molar, yaitu menekankan keseluruhan yang terpadu, alam kehidupan manusia dan perilaku manusia selalu merupakan suatu keseluruhan, suatu keterpaduan. Pembelajaran ialah suatu proses pendalaman yang berlaku dalam akal pikiran, dan tidak dapat diperhatikan secara langsung dengan tingkah laku. Pada intinya teori humanistik itu memanusiakan manusia, karena yang dilihat itu perilaku manusia, bukan spesies lain. Menurut teori ini, manusia memiliki struktur kognitif, dan semasa proses pembelajaran, otak akan menyusun segala pernyataan di dalam ingatan. Pembelajaran juga harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan intelektual anak mulai dari tahap sensorimotor(umur 0-2 tahun),tahap preoperasional(umur 2-7 tahun),tahap operasional konkret(umur 7-11 tahun), tahap operasional formal(umur 11-18 tahun).
Konstruktivisme menyatakan bahwa pengetahuan akan tersusun atau terbangun di dalam pikiran siswa sendiri ketika ia berupaya untuk mengorganisasikan pengalaman barunya berdasar pada kerangka kognitif yang sudah ada di dalam pikirannya. Beberapa prinsip penerapan teori belajar ini adalah:
a. Belajar itu berdasarkan keseluruhan
b. Anak yang belajar merupakan keseluruhan
c. Belajar berkat insight
d. Belajar berdasarkan pengalaman
Sedangkan konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas. Belajar lebih menekankan proses daripada belajar, yang mengharuskan siswa bersikap aktif. Hasil belajar sebagai tujuan dinilai penting, tetapi proses yang melibatkan cara dan strategi dalam belajar juga dinilai penting sebab proses, hasil, cara dan strategi belajar akan mempengaruhi perkembangan pola pikir dan skema berpikir seseorang. Perkembangan teori ini tidak lepas dari usaha keras Jean Piaget dan Vygotsky.
Dalam aliran humanisme memandang bahwa belajar bukan sekadar pengembangan kualitas kognitif saja, melainkan sebuah proses yang terjadi dalam diri individu yang melibatkan seluruh bagian yang meliputi kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dalam aliran ini, siswa harus mempunyai kemampuan mengarahkan sendiri perilakunya dalam belajar, apa yang akan dipelajari, sampai tingkatan mana, kapan, dan bagaimana mereka belajar, sekaligus memotivasi diri sendiri, bukan hanya sekadar menjadi penerima pasif dalam belajar. Pendekatan humanistik menekankan pentingnya emosi, komunikasi yang terbuka, dan nilai-nilai yang dimiliki oleh setiap siswa.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

komentt yoo..