Jumat, 26 April 2013

Perkembangan Subsektor Perkebunan



Subsektor perkebunan merupakan salah satu subsektor yang mengalami pertumbuhan paling konsisten, baik ditinjau dari areal maupun produksi. Secara keseluruhan, areal perkebunan meningkat dengan laju 2.6% per tahun pada periode tahun 2000-2003, dengan total areal pada tahun 2003 mencapai 16.3 juta ha (Tabel 1). Dari beberapa komoditas perkebunan yang penting di Indonesia (karet, kelapa sawit, kelapa, kopi, kakao, teh, dan tebu), kelapa sawit, karet dan kakao tumbuh lebih pesat dibandingkan dengan tanaman perkebunan lainnya dengan laju pertumbuhan diatas 5% per tahun.Pertumbuhan yang pesat dari ketiga komoditas tersebut pada umumnya berkaitan dengan tingkat keuntungan pengusahaan komoditas tersebut relatif lebih baik dan juga kebijakan pemerintah untuk mendorong perluasan areal komoditas tersebut.
                  Tabel 1. Perkembangan Luas Areal Perkebunan Indonesia (1000 Ha)
Komoditi
Tahun
Pertumbuhan
2000
2003
(% per tahun)
Karet
3 372.4
4 125.6
7.0
Kelapa Sawit
3 769.6
4 793.0
8.3
Kelapa
3 696.0
3 909.9
1.9
Kopi
1 260.7
1 293.8
0.9
Kakao
749.9
917.6
7.0
Tebu
340.6
336.2
-0.4
T e h
153.7
152.2
-0.3
Lainnya
2 101.2
1 099.7
-19.4
Total
15 103.5
16 291.8
2.6
                  Sumber: Direktorat Bina Produksi Perkebunan (2004) 
Sejalan dengan pertumbuhan areal. produksi perkebunan juga meningkat dengan konsisten dengan laju 7.6% pada tahun 2000-2003, dengan total produksi mencapai 19.6 juta ton pada tahun 2003 (Tabel 2). CPO dari kelapa sawit dan karet merupakan dua komoditas yang mempunyai kontribusi yang dominan.Produksi kelapa sawit tumbuh pesat dengan laju 12.1% per tahun.Pertumbuhan produksi komoditas kakao dan kopi juga relatif pesat pada periode tersebut.Meningkatnya harga-harga produk perkebunan pada tahun 2003 merupakan salah satu faktor pendorong peningkatan produksi tersebut.

                 Tabel 2. Perkembangan Produksi Produksi Perkebunan
Komoditi
Tahun
Pertumbuhan
2000
2003
(% per tahun)
Karet
1 501.4
1 630.3
2.8
Kelapa Sawit
7 580.5
10 682.9
12.1
Kelapa
3 047.0
3 241.5
2.1
Kopi
554.6
691.1
7.6
Kakao
421.1
572.6
10.8
Gula
1 690.0
1 700.0
0.2
T e h
162.6
168.1
1.1
Lainnya
2 472.9
2 618.0
1.9
Total
15 740.1
19 604.5
7.6
                 Sumber: Direktorat Bina Produksi Perkebunan (2004)
Dengan perkembangan yang cukup konsisten, subsektor perkebunan mempunyai peran strategis, baik dalam pembangunan ekonomi secara nasional, maupun dalam menjawab isu-isu global.
 Peran Subsektor Perkebunan dalam Pembangunan Nasional
Sebagai salah satu subsektor penting dalam sektor pertanian, subsektor perkebunan secara tradisional mempunyai kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia .Sebagai negara berkembang dimana penyediaan lapangan kerja merupakan masalah yang mendesak, subsektor perkebunan mempunyai kontribusi yang cukup signifikan.Sampai dengan tahun 2003, jumlah tenaga kerja yang terserap oleh subsektor perkebunan diperkirakan mencapai sekitar 17 juta jiwa.Jumlah lapangan kerja tersebut belum termasuk yang bekerja pada industri hilir perkebunan.Kontribusi dalam penyediaan lapangan kerja menjadi nilai tambah sendiri, karena subsektor perkebunan menyediakan lapangan kerja di pedesaan dan daerah terpencil.Peran ini bermakna strategis karena penyediaan lapangan kerja oleh subsektor berlokasi di pedesaan sehingga mampu mengurangi arus urbanisasi.
Subsektor perkebunan merupakan salah satu subsektor yang mempunyai kontribusi penting dalam hal penciptaan nilai tambah yang tercermin dari kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB).Dari segi nilai absolut berdasarkan harga yang berlaku. PDB perkebunan terus meningkat dari sekitar Rp 33.7 triliun pada tahun 2000 menjadi sekitar Rp 47.0 triliun pada tahun 2003, atau meningkat dengan laju sekitar 11.7% per tahun (Tabel 3). Dengan peningkatan tersebut, kontribusi PDB subsektor perkebunan terhadap PDB sektor pertanian adalah sekitar 16 %. Terhadap PDB secara nasional tanpa migas, kontribusi subsektor perkebunan adalah sekitar 2.9 % atau sekitar 2.6 % PDB total. Jika menggunakan PDB dengan harga konstan tahun 1993, pangsa subsektor perkebunan terhadap PDB sektor pertanian adalah 17.6%, sedangkan terhadap PDB nonmigas dan PDB nasional masing-masing adalah 3.0% dan 2.8%.
Tabel 3. Nilai dan Kontribusi PDB Subsektor Perkebunan
Sektor

PDB Harga Berlaku
(Rp. trilyun)
Pangsa Perkebunan Terhadap (%)
2000
2001
2002
2003
Perkebunan
33.7
37.4
42.0
47.0
100.0 
Pertanian, Peternakan, Hutan, Perikanan
217.9
244.7
275.2
296.2
15.9
Total PDB tanpa Gas
1 081.4
1 279.2
1 433.8
1 594.9
2.9
Total PDB
1 264.9
1 467.7
1 610.6
1 786.7
2.6
Sejalan dengan pertumbuhan PDB.subsektor perkebunan mempunyai peran srategis terhadap pertumbuhan ekonomi. Ketika Indonesia mengalami krisis ekonomi yang dimulai tahun 1997, subsektor perkebunan kembali menujukkan peran strategisnya.Pada saat itu, kebanyakan sektor ekonomi mengalami kemunduran bahkan kelumpuhan dimana ekonomi Indonesia mengalami krisis dengan laju pertumbuhan –13% pada tahun 1998.Dalam situasi tersebut, subsektor perkebunan kembali menunjukkan kontribusinya dengan laju pertumbuhan antara 4%-6% per tahun.
Ketika ekonomi Indonesia mulai membaik, kontribusi dalam hal pertumbuhan, terus menunjukkan kinerja yang konsisten.Selama periode 2000-2003, laju pertumbuhan subsektor perkebunan selalu diatas laju pertumbuhan ekonomi secara nasional (Tabel 4).Sebagai contoh, pada tahun 2001, ketika laju pertumbuhan ekonomi secara nasional adalah sekitar 3.4%, subsektor perkebunan tumbuh dengan laju sekitar 5.6%.Situasi ini menunjukkan bahwa subsektor perkebunan dapat berperan sebagai salah satu subsektor andalan dalam hal pertumbuhan, baik pada saat ekonomi dalam keadaan booming maupun pada saat krisis.




Tabel 4. PDB Berdasarkan Harga Konstan dan Laju Pertumbuhan Ekonomi
Sektor
PDB Harga Konstant 1993
(Rp. trilyun)
 Pangsa Perkebunan Terhadap (%)
2000
2001
2002
2003
Perkebunan
10.7
11.3
11.8
12.4

Pertanian, Peternakan, Hutan,  Perikanan
66.2
67.3
68.7
70.3
17.6
Total PDB tanpa Gas
363.8
379.0
394.5
412.7
3.0
Total PDB
398.0
411.6
426.9
444.5
2.8
Pertumbuhan Perkebunan (%)

5.6
4.4
5.1

Pertumbuhan Nasional (%)

3.4
3.7
4.1

Mempunyai orientasi pasar ekspor, subsektor perkebunan merupakan salah satu subsektor andalan dalam menyumbang devisa. Produk karet, kopi, kakao, teh dan minyak sawit adalah produk-produk dimana lebih dari 50% dari total produksi adalah untuk ekspor. Pada lima tahun terakhir, subsektor perkebunan secara konsisten menyumbang devisa dengan dengan rata-rata nilai ekspor produk primernya mencapai US$ 4 miliar per tahun. Nilai tersebut belum termasuk nilai ekspor produk olahan perkebunan, karena ekspor olahan perkebunan dimasukkan pada sektor perindustrian.
Tabel 5. Perkembangan Ekspor Produk Perkebunan
Komoditi
Volume (1000 Ton)
Pertumbuhan
Nilai (Juta US$)
Pertumbuhan
2000
2002
(% per tahun)
2000
2002
(% per tahun)
Karet
1 379.6
1 496.0
0.0
888.6
1 037.5
0.1
Kelapa Sawit
4 688.8
6 407.5
0.2
1 326.4
2 348.6
0.3
Kopi
352.9
325.0
0.0
467.8
223.9
-0.3
Kakao
424.1
465.6
0.1
341.8
701.0
0.4
T e h
105.6
100.1
0.0
112.1
103.4
0.0
Lainnya
2 538.0


819.3


Total
9 489.0


3 956.0


Karena subsektor perkebunan umumnya berkembang di wilayah pedesaan, marginal, dan kadang terpencil, subsektor perkebunan mempunyai peran strategis dalam pengembangan wilayah yang pedesaan dan terpencil.Di samping dilakukan oleh perusahaan negara (PTPN) dan perusahaan swasta, pengembangan berbagai program pembangunan melalui pola PIR atau pola berbantuan lainnya mempunyai kontribusi yang signifikan.Keberadaan perkebunan telah memberi kontribusi signifikan pada pertumbuhan di wilayah.Berkembangnya berbagai industri pendukung perkebunan, sektor jasa transportasi, konstruksi, dan perdagangan tidak terlepas dari multiplier effectpembangunan perkebunan di wilayah tersebut.
 Peran Subsektor Perkebunan dalam Isu Global
Terhadap isu global yang kini menjadi sorotan internasional seperti kemiskinan, ketahanan pangan, dan isu lingkungan/pembangunan berkelanjutan, subsektor perkebunan mempunyai kontribusi yang juga tidak dapat diabaikan.Terlepas kegagalan dalam beberapa proyek PIR, pengembangan berbagai program perkebunan juga telah terbukti mampu mengurangi jumlah penduduk miskin.Seperti diketahui, pengurangan jumlah orang miskin adalah tujuan pertama dari Millenium Development Goals (MDGs).Pengembangan perkebunan, khususnya yang berbasis kelapa sawit, dari berbagai studi telah menunjukkan terjadinya pengurangan jumalah penduduk miskin.Suatu studi tahun 2002 menunjukan bahwa jumlah orang miskin di wilayah perkebunan kelapa sawit secara umum kurang dari 6%, sedangkan secara nasional jumlah penduduk miskin adalah sekitar 17%.
Peran strategis lain dari subsektor perkebunan dalam isu global yang perlu mendapat perhatian adalah kontribusinya dalam ketahanan pangan. Minyak goreng dan gula merupakan produk perkebunan yang mempunyai peran penting dalam memelihara ketahanan pangan.Negara-negara maju seperti Amerika, Jepang, Eropa, berusaha memaksimalkan tingkat produksi pangannya dalam upaya mencapai ketahanan pangan.Seperti diketahui, ketahanan pangan merupakan salah satu syarat penting dalam ketahanan nasional.
Akhirnya, subsektor perkebunan juga berperan penting dalam hal isu lingkungan yang merupakan isu global yang secara konsisten gaungnya semakin menguat.Pengembangan komoditas perkebunan di areal yang marginal merupakan wujud kontribusi subsektor perkebunan dalam memelihara lingkungan/konservasi.Sebagai contoh.pengembangan tanaman teh di daerah pegunungan dengan kemiringan yang tajam dengan kondisi lahan yang kritis, berperan penting dalam konservasi lingkungan. Pengembangan komoditas karet di lahan kering dan kritis juga memberi kontribusi nyata dalam memelihara bahkan memperbaiki lingkungan. Di samping itu, pengembangan komoditas karet dalam bentuk agroforestry serta pemanfaatan kayu karet sebagai pengganti kayu dari hutan primer merupakan kontribusi lain perkebunan karet dalam konservasi lingkungan. Pengembangan komoditas kelapa sawit di lahan rawa juga merupakan wujud kontribusi subsektor perkebunan dalam memelihara lingkungan. Selanjutnya, pemanfaatan CPO sebagai bahan baku biodiesel juga merupakan bentuk lain dari pengembangan perkebunan dengan pendekatan pembangunan berkelanjutan. Pada masa mendatang.kontribusi ini akan semakin strategis ketika cadangan minyak bumi yang dimiliki semakin menipis serta harga minyak yang mulai meningkat.
Di balik peran subsektor perkebunan yang semakin strategis, pengembangan subsektor perkebunan masih mengalami beberapa kendala dan hambatan yang perlu segera diatasi, yaitu :
ü  Pertama, kebanyakan tanaman perkebunan yang ada adalah tanaman yang sudah tua sehingga produktivitas rendah. Di sisi lain, upaya untung melakukan replanting masih mengalami masalah, terutama dari sisi pendanaan.
ü  Kedua, pengembangan subsektor perkebunan juga masih menghadapi masalah yang berkaitan dengan HGU, baik itu mencakup luasan maupun masa berlaku HGU yang dinilai masih teralu pendek untuk perkebunan dengan siklus produksi sekitar 30 tahun.
ü  Ketiga, masih adanya konflik tanah dan sosial antara perusahaan perkebunan dengan masyarakat sekitar merupakan masalah yang juga perlu segera diatasi.
ü  Keempat, pengenaan PPN pada produk perkebunan juga dinilai sebagai salah satu hambatan dalam pengembangan subsektor perkebunan.
ü  Kelima, belum adanya semacam cetak biru pengembangan subsektor perkebunan juga dinilai sebagai salah satu hambatan dalam pengembangan bisnis perkebunan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

komentt yoo..