Jumat, 26 April 2013

Pola Konsumsi mengakibatkan kerusakan lingkungan global


Sumber: Bapedal 

Penyebab utama berlanjutnya kerusakan lingkungan global adalah pola konsumsi dan produksi yang tidak berkelanjutan, terutama di negara-negara industri. Tuntutan yang berlebihan dan gaya hidup di kalangan orang-orang kaya menimbulkan tekanan berat terhadap lingkungan. Sementara itu kalangan penduduk miskin tidak mampu memenuhi kebutuhannya akan makanan, pelayanan kesehatan, tempat berteduh, dan pendidikan. Pola konsumsi negara-negara maju yang cenderung berlebihan secara langsung akan berpengaruh pada eksploitasi sumber daya alam negara berkembang yang sedang memacu ketertinggalannya dengan negara-negara industri tersebut.
Indonesia, yang saat ini masih termasuk di dalam negara-negara yang berpendapatan ekonomi rendah (low middle income countries) dengan pendapatan per kapitanya sebesar US$650, dan jumlah penduduk miskin absolut masih sekitar 27 juta jiwa tentunya juga ingin terus memacu pertumbuhan ekonominya dan meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup manusianya. Hal ini secara bertahap tercermin dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) dan Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita).
Jumlah penduduk Indonesia yang terus meningkat, saat ini diperkirakan sekitar 185 juta jiwa, dan 206 juta jiwa pada tahun 2000, serta diperkirakan akan menjadi 257 juta jiwa pada tahun 2020, dengan sekitar 58,2% (tahun 2000) dan 56,6% (tahun 2020) penduduk tinggal di pulau Jawa, dan penduduk perkotaan menjadi sekitar 38% pada tahun 2000 dan hampir 50% pada tahun 2020 (BPS dan World Bank, 1994), tentunya secara langsung akan memberikan implikasi pada semakin meningkatnya kebutuhan akan kecukupan pangan, sandang, perumahan, enerji, serta kebutuhan-kebutuhan mendasar lainnya. Di lain pihak, dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada dua dekade terakhir ini, kebutuhan-kebutuhan tersebut secara bertahap juga cenderung mengalami perubahan baik antara daerah misalnya Jawa dan luar Jawa, penduduk perkotaan maupun pedesaan, serta antara golongan yang berpendapatan tinggi dan rendah.
Dalam Pembangunan Jangka Panjang (PJP) II, akibat pergeseran struktur ekonomi dari sektor pertanian ke sektor industri, di pulau Jawa diperkirakan 70% lokasi industri akan terkonsentrasi di sekitar perkotaan. Hal ini diperkirakan akan meyebabkan semakin meningkatnya beban pencemaran di wilayah tersebut. Beban pencemaran air dari BOD diperkirakan akan meningkat dari sekitar 250.000 ton per tahun pada tahun 1990 menjadi lebih dari 1.200 juta ton per tahun pada tahun 2010 (Repelita VI). Bahan berbahaya dan beracun (B3) diperkirakan akan meningkat dari di bawah 200.000 ton per tahun pada tahun 1990 menjadi sekitar 1 juta ton per tahun pada 2010. Pencemaran udara yang dicirikan oleh peningkatan kadar debu, timah hitam (Pb), SO2, dan NOx, juga meningkat dengan tumbuhnya sektor industri dan sektor transportasi. Beban pencemaran udara dari limbah industri berupa SO2 akan meningkat dari sekitar 200.000 ton per tahun pada tahun 1994 menjadi sekitar 1,5 juta ton per tahun pada akhir PJP II.
Masalah konsumsi sumberdaya alam dan lingkungan bukan hanya di perkotaan, tetapi juga di pedesaan yaitu semakin besarnya luas lahan kritis akibat eksploitasi sumberdaya alam di areal pertanian tanah kering, hutan lindung, suaka alam, dan kawasan lindung lainnya, yang pada saat ini sudah mencapai kurang lebih 11 juta hektar tersebar di 39 Daerah Aliran Sungai (DAS) prioritas pada 26 propinsi.
Dengan semakin terbukanya arus informasi global, tentunya segala sesuatu yang terjadi di negara-negara industri atau pun di daerah-daerah yang lebih maju perekonomiannya akan mempunyai dampak langsung pada negara-negara berkembang atau daerah-daerah yang masih tertinggal. Pola konsumsi yang cenderung berlebihan di negara-negara maju misalnya, baik secara langsung ataupun tidak akan pula dilihat bahkan ditiru oleh negara-negara berkembang dalam upaya mengejar ketertinggalannya. Secara sistematis negara-negara berkembang dipaksa untuk mengeksploitasi sumber-sumber dayanya guna memenuhi permintaan negara-negara maju sekaligus mempengaruhi perubahan pola konsumsi dan gaya hidup di negara-negara berkembang termasuk Indonesia.
Perubahan pola konsumsi dalam bagian ini, meliputi berbagai issue dan aspek yang relatif cukup luas. Oleh karena itu bagian ini tidak dapat dilepaskan dari pembahasan pada bagian-bagian lain, misalnya masalah penduduk, kemiskinan, perumahan, pangan dan lain sebagainya.
Area program dalam bagian ini meliputi pola konsumsi dan produksi yang tidak berkelanjutan di Indonesia, dan mengenai strategi dan kebijakan yang dapat dilakukan dalam upaya mendorong perubahan pola konsumsi agar tetap berkelanjutan. Karena kebutuhan akan pangan masih merupakan masalah yang sangat penting di negara berkembang seperti Indonesia, maka kajian dalam bagian ini juga lebih dititikberatkan pada perubahan pola konsumsi pangan tersebut.
Pangan merupakan kebutuhan manusia untuk tetap hidup, sehingga sebesar apapun pendapatan seseorang ia akan tetap berusaha memperoleh pangan yang memadai. Sejalan dengan semakin meningkatnya pendapatan seseorang, ataupun rumah tangga maka mereka cenderung akan terus menambah konsusmsi makanannya. Walaupun demikian, sampai pada batas tertentu peningkatan pendapatan tidak lagi menyebabkan bertambahnya jumlah makanan yang dikonsumsi, karena kebutuhan manusia akan makanan pada dasarnya mempunyai titik jenuh. Bila secara kuantitas kebutuhan seseorang sudah terpenuhi, maka biasanya ia akan mementingkan kualitas atau beralih pada pemenuhan kebutuhan bukan makanan. Dengan demikian ada kecenderungan semakin tinggi pendapatan seseorang semakin berkurang persentase pendapatan yang dibelanjakannya untuk makanan. Di samping itu dalam area program ini – sebagai akibat adanya perubahan pola konsumsi pangan, maka akan dilihat pula secara singkat perubahan pola konsumsi akan sandang dan perumahan (dalam pembahasan bersama-sama pangan), air dan energi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

komentt yoo..