Sabtu, 06 April 2013

Keutamaan Dakwah ke Jalan Allah

By: Al Ustadz Ja’far Shalih




Ketika seseorang telah mengetahui kebenaran dan mengamalkannya, maka tahapan selanjutnya adalah mendakwahkan kebenaran yang ia pegang dan bersabar dalam mendakwahkannya. Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dan generasi salaf terdahulu adalah sebaik-baik tauladan dalam hal ini. Sehingga merekalah golongan pertama yang berhak mendapatkan keberuntungan dan selamat dari termasuk golongan yang merugi. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), "Demi Masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal saleh, dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran, dan nasehat menasehati supaya menetapi kebenaran." (Al Ashr:1-3) 
Sudah menjadi ciri dan karakter seorang ahlussunnah berdakwah ke jalan Allah Ta’ala di atas bashirah. Allah Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia (yang artinya), "Katakanlah, "Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik"." (Yusuf:108)
As Syaikh Rabi’ Hafidzahullah berkata, "Sepertinya sebaik-baik yang pernah dikatakan tentang kedudukan dakwah ke jalan Allah Ta’ala adalah apa yang dikatakan oleh Al Imam Ibnul Qayyim Rahimahullan," Maka berdakwah ke jalan Allah Ta’ala adalah peran para Rasul dan pengikut mereka…. Dan menyampaikan sunnah-sunnahnya kepada ummat lebih utama dari melemparkan anak-anak panah ke leher-leher musuh. Karena melemparkan anak-anak panah bisa dilakukan oleh semua orang, sedangkan menyampaikan sunnah-sunnah tidak bisa diemban kecuali oleh pewaris para Nabi dan pengganti mereka pada ummatnya"." An Nashihah karya Asy Syaikh Rabi’ Al Madkhali Hafidzahullah (hal 9 cetakan Daarul Minhaj) 
Dan diantara keutamaan berdakwah ke jalan Allah Ta’ala adalah, ia merupakan benteng yag kokoh bagi ummat dan masyarakat dari musibah dan bencana. Allah Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia (yang artinya), "Maka mengapa tidak ada dari ummat-ummat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. Dan Rabbmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri zalim, sedangkan penduduknya orang-orang yang melakukan perbaikan" (Huud: 116-117)
As Syaikh Saliim Al Hilali Hafidzahullah berkata, "Ayat ini merupakan isyarat yang menyingkap salah satu dari sunnah-sunnah Allah Ta’ala pada umat-umat terdahulu. Maka umat yang rusak dengan penghambaan kepada selain Allah Ta’ala pada salah satu dari bentuk-bentuknya, kemudian ada yang bangkit mengingkarinya merekalah ummat yang selamat, mereka tidak dihukum dengan adzab dan kebinasaan. Sedangkan ummat yang merebak di sana kedzaliman dan kerusakan dan tidak ada yang mengingkarinya atau ada yang mengingkarinya tapi tidak membekas pada kondisi yang rusak maka sesungguhnya sunnatullah berlaku pada mereka dan membinasakan mereka dengan sejadi-jadinya…. Dari sini tampaklah nilainya dakwah ke jalan Allah Ta’ala dan nilai upaya membersihkan bumi Allah Ta’ala dari kerusakan yang menyelimutinya karena ia merupakan benteng yang kokoh bagi ummat dan masyarakat". Lihat Bahjatun Nadzirin (1/34 cetakan Daar Ibnul Jauzi).
Lalu apa yang dimaksud dengan berdakwah ke jalan Allah Ta’ala? Berkata Asy Syaikh Rabi’ Al Madkhali Hafidzahullah di dalam kitabnya An Nashihah (hal 8-9), "Pengertian paling afdhal tentang dakwah ke jalan Allah Ta’ala menurutku adalah apa yang pernah diterangkan oleh Ibnu Taimiyah Rahimahullah, ia berkata, "Berdakwah ke jalan Allah Ta’ala adalah berdakwah kepada keimanan kepada-Nya dan kepada dan setiap apa yang dibawa oleh Rasul-Rasul-Nya dengan membenarkan setiap berita yang mereka bawa dan menaati setiap perintahnya". Dan terkandung pada yang demikian itu dakwah kepada 2 kalimat syahadat, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji ke baitullah. Juga terkandung padanya dakwah kepada keimanan kepada Allah Ta’ala, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, dan keimanan kepada hari kebangkitan setelah kematian serta beriman kepada takdir yang baik dan takdir yang buruk, dan berdakwah agar setiap orang beribadah kepada Allah seolah-olah ia melihat-Nya.
Sesungguhnya ketiga derajat ini yaitu Islam, Iman, Ihsan adalah agama Allah Ta’ala…. Maka berdakwah ke jalan Alah Ta’ala dan intinya adalah peribadahan kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya sebagaimana untuk itulah para rasul diutus dan kitab-kitab diturunkan". Majmu Fatawa (15/160).
Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dan para shahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka di atas kebaikan telah bangkit mengemban tanggung jawab yang mulia ini, menyampaikan agama Allah Ta’ala ke segenap penjuru dunia dengan penuh pengorbanan tanpa mengenal lelah, menyeru kepada tauhid dan memerangi kesyirikan dalam rangka merealisasikan firman Allah Ta’ala (yang artinya), "Serulah (manusia) pada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik."(An Nahl:125)
Dan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam juga mengutus utusan-utusan semuanya di atas tujuan yang sama, membersihkan bumi Allah Ta’ala dari najis-najis kesyirikan. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), "Dan perangilah mereka itu sehingga tidak ada fitnah lagi dan sehingga agama itu hanya untuk Allah belaka. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu) maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim."(Al Baqarah:193)
Al Imam Ibnu Jarir At Thabari di dalam tafsirnya berkata, "Sehingga tidak ada kesyirikan kepada Allah Ta’ala dan sehingga tidak ada satu pun diibadahi selain Dia dan lenyaplah peribadahan kepada berhala dan sesembahan-sesembahan dan tandingan-tandingan. Sehingga ibadah dan ketaatan hanyalah untuk Allah semata." 
Dan dalam riwayat hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya), "Aku diperintahkan untuk memerangi sekalian manusia sampai mereka mengucapkan Laa Ilaaha Ilallah, maka apabila mereka mengucapkannya maka terlindungilah dariku darah-darah mereka dan harta harta benda mereka kecuali dengan alasan yang dibenarkan dan perhitungan mereka di sisi Allah."(Hadits Riwayat Muslim)
Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam pernah mengutus Muadz Bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu ke Yaman dengan amanah, "Sesungguhnya kamu mendatangi Ahli Kitab, jadikanlah dakwahmu (ajakanmu) yang pertama kepada mereka syahadat Laa Ilaaha Ilallah-dan dalam riwayat yang lain agar mereka mentauhidkan Allah."(Mutafaqun ‘Alaih)
Dan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam jug apernah mengutus Jarir Bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhu ke Yaman, beliau berkata (yang artinya), "Maukah kamu menenangkan hatiku menghancurkan Dzil Khalasah".Mutafaqun ‘Alaih dari Ibnu Jarir Rahimahullah berkata, "Tidak ada yang paing meletihkan hati Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dari masih adanya segala yang diibadahi selain Allah Ta’ala". Lihat Al Fath (8/72).
Dan begitu pula para shahabatnya Radhiyallahu ‘Anhum yang berjalan di atas garis ini. Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu berkata kepada Abul Hayyaj, "Inginkankah kamu aku utus seperti Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dahulu mengutusku: Jangan tinggalkan satu pun gambar makhluk hidup kecuali kamu hapus, dan jangan pula kuburan yang ditinggikan kecuali kamu ratakan." Hadits riwayat Muslim dari Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu.
Inilah manhaj para nabi dan jalan yang wajib diikuti dalam berdakwah ke jalan Allah Ta’ala. Abdullah Bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan dari Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, "Suatu hari Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam membuatkan untuk kami sebuah garis kemudian beliau berkata, "Inilah jalan Allah" Kemudian beliau membuat untuk kami di samping kiri dan kanannya garis-garis yang lain dan beliau berkata, "Sedangkan ini jalan-jalan, pada setiap jalan tersebut ada syaithan yang mengajak kepadanya". Dan belian Sholallahu ‘Alaihi Wasallam membaca, "Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa"(Al-An’am:153)".
Dan jalan yang dimaksud pada ayat tersebut adalah apa yang dijelaskan pada ayat sebelumnya, yaitu yang terdapat pada firman-Nya (yang artinya), "Katakanlah:Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Rabbmu yaitu janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia,…. Demikian itu yang diperintahkan oleh Rabbmu kepadamu agar kamu ingat"(Al-An’am:151:152).
Asy-Syaikh Rabi’ Hafidzahullah berkata, "Maka berdakwah kepada tauhid dengan semua jenisnya merupakan kaidah seluruh risalah dan wajib menjadi kaidah para da’i yang menyeru ke jalan Allah ta’ala dari ummat ini pada setiap zaman dan generasinya, mencontoh para Rasul yang mulia Alaihimus Sholatu Wasallam dan meniti manhaj mereka yang bijak yang Allah Ta’ala mebankan kepada mereka semua di dalam ayat-Nya, "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Taghut (peribadatan kepada selainnya) itu".(An-Nahl:36)".
…Maka sudah menjadi kewajiban bagi setiap pewaris nabi yang sebenarnya untuk berpegang dengan manhaj ini dan tidak menyelisihinya berdasarkan alasan-alasan berikut:
1. Bahwa inilah manhaj yang diridhai Allah Ta’ala untuk seluruh Nabi. Mereka berjalan di atasnya mendakwahi ummat mereka sejak utusan Allah yang pertama sampai Nabi kita Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wasallam. Maka keluar dari garis ini sama saja mencampakkan perintah yang disyari’atkan-Nya dan dijalankan oleh para Rasul-Nya. Dan sikap yang demikian tanpa mereka sadari mengandung unsur mengkritik Allah Ta’ala, Rasul-Nya dan Kitab-Nya dan merupakan sikap memojokkan ilmu dan hikmahnya Allah Ta’ala.
2. Bahwa para Nabi berpegang dengannya dan semua mereka menerapkannya, yang mana hal ini menunjukkan dengan jelas bahwa berdakwah ke jalan Allah Ta’ala bukan termasuk perkara itjihadi sama sekali.
3. Bahwa Allah Ta’ala telah mewajibkan pada Rasul-Nya yang kita semua diwajibkan untuk mengikutinya untuk mencontoh dan menempuh manhaj para Rasul. Allah Ta’ala berfirman setelah menyebut 13 Rasul-Nya (yang artinya), "Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka."(Al-An’am:90)
Dan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam telah menempuh jalan mereka dengan memulai dakwah dengan tauhid dan menekankannya dengan tegas dengan perhatian yang kuat. 
4. Tatkala dakwah mereka (para Nabi dan  Rasul) pada bentuk terbaiknya tercermin pada dakwah Khalilullah Ibrahim -bapak para Nabi dan Qudwah mereka- Allah Ta’ala semakin menambahkan penekanannya dengan memerintah Nabi kita Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wasallam untuk mengikuti manhajnya. Dia berfirman (yang artinya), "Kemudian kami wahyukan kepadamu (Muhammad): Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif. Dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Rabb."(An-Nahl:123).
Dan perintah untuk mengikutinya termasuk juga perintah untuk mengambil ajarannya yang tidak lain adalah tauhid dan memerangi kesyirikan, dan termasuk juga menempuh manhajnya memulai dakwah dengan tauhid.
Dan Allah Ta’ala juga menambahkan penekanan lain dalam perkara ini, Dia memerintahkan ummat Muhammad Sholalallahu ‘Alaihi Wasallam untuk mengikuti ajaran Nabi yang hanif ini. Dia berfirman, "Katakanlah:"Benarlah (apa yang difirmankan) Allah". Maka ikutolah agama Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah orang-orang yang musyrik." (Ali Imran:95)
Maka berdasarkan ini maka ummat Islam seluruhnya diperintahkan untuk mengikuti ajarannya. Dan sebagaimana sebagaimana tidak boleh melanggar ajarannya negitu pula tidak boleh menyelisihi manhajnya dengan memulai dakwah kepada tauhid dan menghancurkan kesyirikan dan sarana-sarana serta simbol-simbolnya.
5. Allah Ta’ala berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia, "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan Ulil Amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikan ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu dan lebih baik akibatnya."(An Nisaa’:59).
Apabila kita merujuk kepada Al Qur’an kita mendapati bahwa rasul-rasul Allah seluruhnya memulai dakwahnya dengan tauhid dan yang pertama-tama mereka larang dan mereka peringatkan ummatnya darinya adalah kesyirikan. Dan kita juga mendapati bahwa Allah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk mengikuti mereka dan menempuh jalan mereka. 
Dan apabila kita merujuk kepada Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa dakwah beliau dimulai dengan dan berakhir dengan tauhid dan memerangi kesyirikan bahkan beliau telah memerangi setiap simbol-simbol kesyirikan, sarana-sarana dan sebab-sebabnya. An-Nashihah karya As Syaikh Rabi’ Hafidzahullah (hal 20-22).
Maka dengan uraian singkat ini jelas bagi kita semua bahwa tidak adal pilihan lain bagi ummat ini untuk meraih kejayaannya kecuali dengan cara menempuh keberhasilan Rasulnya Sholallahu ‘Alaihi Wasallam.
Wallahu a’lam bis Shawab.

Sumber: Majalah As Salam No IV/Tahun II - 2006 M/1427 H halaman 4-7
Judul Asli: "Keutamaan Berdakwah ke Jalan Allah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

komentt yoo..